Make your own free website on Tripod.com

SEKAR PELATIHAN DAN PEMBINAAN TARUNA UTAMA

BANDUNG-BEKASI-BOGOR

Bubuka
BANDUNG-BEKASI-BOGOR
CIAMIS-CIANJUR-CIREBON
GARUT-INDRAMAYU
KARAWANG-KUNINGAN-LEBAK
JAKARTA
MAJALENGKA-PANDEGLANG-SUBANG/PURWAKARTA
SERANG-SUKABUMI-SUMEDANG
TANGERANG-TASIK
SUNDA

      SELABINTANA     HOTLINE : silih_asih@yahoo.com

Bandung

Bandung - terkenal dengan berbagai julukan seperti: Kota Kembang, Kota Eropa di Pegunungan Asia dan Paris-nya Pulau Jawa - merupakan sebuah kota yang terletak pada ketinggian 725 m dpl. Kota yang terhampar pada suatu dataran yang dikelilingi gunung-gunung ini memiliki hawa yang sejuk, segar dan panorama yang indah. Awal mula berdirinya Kota Bandung tidak lepas dari jasa dan kiprah Wiranatakusumah II, yang menjadi Bupati Kabupaten Bandung (1794 - 1829). Pada saat itu, ibukota kabupaten terletak di Karapyak - Dayeuh Kolot. 

Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubjend Herman Willem Daendels (1808 - 1811), mempunyai rencana membuat sebuah jalan yang membelah P. Jawa, menghubungkan Anyer di ujung barat dan Panarukan di timur.  Jalan yang dikenal sebagai Jalan Raya Pos (Groote Postweg) membentang sepanjang 1000 km. 

Atas permohonan Daendels inilah, sejak tanggal 25 Mei 1810, ibukota Kabupaten Bandung yang semula berada di Karapyak dipindah, mendekati Jalan Raya Pos. Bupati Wiranatakusumah II, dengan persetujuan sesepuh serta tokoh-tokoh di bawah pemerintahannya memindahkan pusat pemerintahan ke Kota Bandung sekarang. Daerah yang dipilih sebagai ibukota baru tersebut, terletak di antara dua buah sungai (S. Cibadak dan S. Cikapundung), daerah sekitar Alun-Alun Bandung sekarang.

Pada tahun 20-30an timbul gagasan dan kemudian usulan memindahkan ibu kota Hindia Belanda (Nusantara) dari Batavia ke dataran tinggi Bandung ini. Sehingga dibangunlah berbagai gedung megah dan indah untuk pemerintahan dan perumahan pendukungnya. Pemindahan ini beralasan higienis lingkungan dimana Bandung mempunyai iklim yang sejuk serta pemandangan yang mempesona dibanding Batavia waktu itu.Selain itu,fakta bahwa bumi Pasundan yang sangat kaya dengan berbagai hasil sumber daya alamnya telah menghasilkan banyak keuntungan yang dikeruk untuk kepentingan penjajahan. Istilah gabus pelampung bagi bumi Pasundan, menunjukkan pembangunan sarana-sarana fisik megah masa penjajahan Belanda bermodal dari pengerukan alam tatar Pasundan bersamaan dengan pemerasan, penghisapan serta penindasan terhadap manusia pribumi dalam jangka panjang.

Bahasa dan Seni Tradisi: Penduduk asli mayoritas menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dalam kehidupan sehari-harinya dan bahasa Indonesia sebagai resmi. Tradisi tidak jauh berbeda dengan komunitas Sunda lainnya yang mengutamakan "orang yang lebih tua usianya" serta baik budi dan menghormati tamunya (someah hade ka semah). 

Seni yang masih dipertahankan: Adat perkawinan khas Sunda, Wayang golek, Calung, Reog, Angklung dan Longser.

Wisata Sejarah:

1. Candi Bojongmenje       2. Gedung Papak    3. Gedung Sate     4. Pendopo kabupaten (cikal bakal kota Bandung)        5. Gua  Jepang di Taman Juanda       6. Gedung Merdeka      7. Gedung Sabau      8. Museum Sri Baduga   9. Museum Mandala Wangsit Siliwangi       10. Bangunan2 tua bekas peninggalan  Belanda

11. Gedung Dwiwarna (bangunan terakhir yang dibuat Belanda)

Wisata Ilmiah:

1. Museum Geologi   2. Peneropongan Bintang Boscha   3. Museum Geologi    4. Museum Zoologi   5. Gedung Aula Barat ITB   6. Perpustakaan Jawa Barat

Wisata Alam:

1. Situ Patenggang  2. Pemandian Air Panas Maribaya 3. Kawah Tangkuban Perahu  4. Situ Cileunca   5. Pemandian Air Panas di Ciwidey  6. Naik Kuda di Jl. Ganeca

Wisata Belanja:

1. Cibaduyut (Pusat Perajin kulit: Sepatu, tas. dll)  2. Pasar Baru (grosir untuk kain)  3. Cihampelas (produsen jeans)  4. Batagor Riri (makanan khas Bandung)       5. Kue Surabi (makanan unik yang gurih)    6. Wayang Golek      7. Lukisan Jelekong


Bekasi

Seorang ahli sejarah Poerbatjaraka berpendapat bahwa letak ibukota Tarumanegara terdapat di sekitar kota Bekasi. Pendapat Poerbatjaraka berdasarkan dugaan bahwa nama candrabagha yang ditulis dalam prasasti Tugu, setelah menyesuaikan diri dengan aturan bahasa setempat menjadi Bekasi. Etimologi itu berasal dari kata candrabhaga>bhagacandra>bhagasasi>Bekasi 

Naskah Wangsakerta juga menyebutkan, walau raja serta keluarga kerajaan menganut agama Hindu, tetapi penduduk di sekitar desa-desa masih tetap dengan ajaran leluhur mengikuti adat nenek moyangnya (seperti Komunitas Badui?) yang berarti telah ada tata kemasyarakatan sebelum Tarumanegara.    Pada zaman Tarumanegara inilah istilah Sunda mulai dikenal yakni untuk menyebut ibukota kerajaannya sendiri sebagai Sundapura (kota Sunda). Demikian pula dengan legenda harimau (maung), menunjukkan keperkasaan Sang Purnawarman yang bergelar Harimau Tarumanegara (Wyagghra ning Tarumanegara).   

Pada zaman kolonial Belanda, Bekasi salah satu daerah Jatinegara (Meester Cornelis). Masa revolusi fisik berpindah-pindah dari Bekasi ke Tambun, Cikarang dan Kedunggede. Tanggal 17 Februari 1960 rakyat Bekasi mengusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk mengganti Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.

Bahasa dan Seni Tradisi:  Bahasa pergaulan penduduk Bekasi adalah Bahasa Sunda, Betawi dan bahasa Indonesia sebagai bahasa formal. Seni yang berkembang adalah: Lenong, Cokek, Wayang Kulit, Reog/Dogdog (di Kecamatan Bekasi); Topeng (di Lemahabang), Wayang Golek, Tanji (di Kec. Setu), Kasidahan.

Wisata Sejarah:

1. Situs Buni di Babelan   2. Prasasti Muara Cianten, Cibarusa

Wisata Alam:

1. Cibitung         2. Pesisir Pantai


Bogor

Pada awal abad ke-16 Masehi, di Pulau Jawa masih terdapat dua buah Kerajaan besar, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Yang pertama berlokasi di bagian barat P. Jawa, sedangkan Kerajaan Majapahit terletak di bagian timur P. Jawa.

Ibukota Kerajaan Sunda ialah Pakuan Pajajaran berada di daerah pedalaman "Dayo"(=Dayeuh=kota=Bogor), ibukota itu dapat didatangi oleh kapal-kapal kecil dengan menyusuri Sungai Ciliwung melalui kota Pelabuhan Sunda Kalapa (Jakarta sekarang). Perjalanan Sunda Kalapa - Pakuan dapat ditempuh selama dua hari. Pada waktu itu penduduk ibukota Pakuan berjumlah sekitar 50.000 orang.

Kota Pakuan ibarat Mesopotamia - pusat peradaban yang tumbuh diantara dua sungai besar: S. Cisadane dan S. Ciliwung. Pusat Kerajaan Pajajaran ini sangat kuat pertahanannya, sehingga penyerang sulit untuk menembusnya. Berkali-kali pasukan tidak beridentitas menyerang ibukota yang dilindungi parit serta lembah, namun pada akhirnya keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati dapat dibakar dan dibumihanguskan. Pajajaran sirna ingbhumi pada 8 Mei 1579 M. Sebagian penduduk mengungsi ke pantai selatan (Cisolok dan Bayah), ke arah timur (Sumedang), dan ke arah Pandeglang (Gunung Pulasari).

Hebatnya pertahanan Pakuan ini, masih bisa disaksikan hingga masuknya kekuatan kolonial VOC Belanda. Pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, berita tentang parit pertahanan selalu Bogor menghiasi laporan ekspedisi VOC, karena sangat menarik bagi para serdadu dan orang-orang barat itu. Sisa-sisa parit pertahanan ini terserak ini di wilayah Batutulis, Lawanggintung dan Kompleks Pemakaman Dreded.

Bahasa dan Seni Tradisi: Penduduk kota Bogor terdiri dari berbagai suku bangsa dan sebagian besar bersuku Sunda. Bahasa pengantar sehari-hari sebagian besar berbahasa Sunda disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa formal dan bahasa para migran.  Seni tradisi yang masih ada: Calung, reog, wayang, karawitan, wayang, ajeng, angklung gubrag, jipeng, tanji, seni lukis/ pahat/ukir.

Wisata Alam:

1. Kebun Raya Bogor   2. Taman Safari    3. Telaga Warna (luas 23,25 ha di Cisarua)    4. Danau Lido   5. Gunung Salak Endah   6. Gua Gudawang          7. Cipanas-Puncak    8. Curug Cilember     9. Kawah Ratu       10. Air Panas Gunung Pancar     11. Air Panas Ciseeng   12. Situ Lebak wangi di Parung   13. Ciliwung - Cisadane      

Wisata Sejarah/Budaya:

1. Istana Bogor (awal mula didirikan pada tahun 1745 sebagai pesanggarahan)   2. Prasasti Batutulis   3. Tugu Kapten Muslihat     4. Situs Rancamaya   5. Arcadomas (2 ha di Cisarua)    6. Bukit Parbakti       7. Candi Cibuaya     8. Prasasti Jambu    9. Prasasti Ciaruteum    10. Prasasti Kebon kopi   11. Prasasti Pasir Awi      12. Museum Peta

Wisata Pendidikan:

1. Herbarium Bogoriensis    2. Museum Etnobotani     3. Museum Zoologi   4. Pusat Perpustakaan Pertanian     5. Kampus IPB

Wisata Belanja:

1. Asinan Bogor        2. Talas Bogor        3. Perlengkapan rafting Boogie           4. Perangkat gamelan dari logam         5. Wayang golek Ciampea            6. Lampu gentur Cipayung Girang      7. Batuaji Cipayung datar