Bubuka: Peta zaman Portugis dan Belanda masa
silam membagi Nusantara (Indonesia sekarang) menjadi dua gugusan kepulauan, yaitu Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda
Kecil. Sedang The Hammond World Atlas tahun 1980, peta terbitan Time USA itu menyebutnya dengan nama Sunda Islands.
Pulau Jawa bagian barat ini diperkirakan muncul pada akhir zaman Miosen. Terbentuknya gunung-gunung
berapi/dataran tinggi di daerah ini terus terjadi hingga zaman Pliosen atau Tersier Akhir. Para arkeolog pun telah menandai
bahwa beberapa tempat di wilayah ini (diantaranya kota Jakarta sekarang) telah dihuni manusia sejak tahun 3000 lalu, berdasarkan
temuan bekas-bekas permukiman di mulut S. Ciliwung
Fosil-fosil purbakala yang telah ditemukan salah satunya adalah kapak genggam (tanpa tangkai)
yang ditemukan di Parigi, Jampang (Sukabumi) dan Leuwiliang Bogor. Kapak ini dianggap sezaman dengan masa hidupnya Pithecantropus
Erectus dari Trinil (Sangiran). Demikian pula alat pemukul kayu di Cariu, periuk di Buniwates, kapak batu, tengkorak, gelang,
cincin, periuk, prasasti di daerah Bekasi. Banyak lagi perkakas purba yang menunjukkan kehidupan telah berlangsung sedemikian
tuanya di daerah ini.
Dari sumber tertulis di wilayah inipun tercatat beberapa nama besar sejarah yang masih perlu
penelitian lebih lanjut, yaitu: Salakanagara (±130 s/d 362 M), Tarumanagara (±358 s/d 669 M), Kendan-Galuh (±538 s/d 852 M),
Sunda (±669 s/d 1482 M), Pakuan Pajajaran (±1482 s/d 1579 M), Sumedanglarang (±1576 s/d 1608 M), Cirebon (±1270 M -), Banten
(±1526 M-). Selain juga terdapat beberapa nama lainnya.
Dalam rentang waktu yang panjang ini telah banyak peristiwa terjadi, pergantian penguasa wilayah ini niscaya
selalu dengan beda kehendak yang didapatkan melalui damai maupun melalui peperangan. Telah mengubur banyak kekayaan sejarah
menjadi lapisan mitos dan legenda, sementara yang terselamatkan masih tercecer dan tersebar di berbagai pustaka lama, baik
di pelataran museum-museum Indonesia maupun tumpukkan naskah-naskah kuno di berbagai negara.
Dengan posisi yang sangat strategis serta tingkat kesuburan alamiah yang luar biasa ini,
P. Jawa bagian barat menyimpan banyak cerita tentang pergumulan umat manusia dari berbagai pelosok untuk memperebutkan penguasaan
wilayah, militer, ekonomi, sosial dan budaya. Tatar Pasundan ini selain hamparan keindahan alamiahnya yang layak dikunjungi,
juga diungkap untuk tamasya sejarah, budaya, petualangan, eksplorasi ilmiah dan rekreasi keluarga. Tatar Pasundan is the
world heritage. |